Ada anjuran bagi umat Islam untuk menghindar dari sejumlah sifat buruk. Salah satunya adalah takabur.

Sifat negatif ini membuat orang merasa lebih baik dibandingkan yang lain. Karena merasa dirinya lebih bernilai, dia jadi menyepelekan orang lain.

Sebenarnya, sifat takabur bukanlah bawaan manusia. Sifat ini bisa muncul karena dipicu sejumlah sebab.

Tak melulu hal buruk, hal baik juga bisa memicu seseorang menjadi takabur.

Dikutip dari Harakah Islamiyah, Imam Al Ghazali menyebutkan sebab-sebab yang memicu munculnya sifat ini. Pendapat itu dia tuangkan dalam kitabnya Ihya Ulumiddin.

Sebab pertama yaitu ilmu dan pengetahuan yang dimiliki. Ilmu tentu membuat orang menjadi cerdas namun juga bisa mengarahkan kepada kesombongan dengan menganggap yang lain bodoh.

Penyebab ini kerap dialami kaum terpelajar termasuk para ulama.

Jika orang yang berilmu sampai takabur, menandakan hatinya tertutup dan tidak dapat menerima kebenaran.

Sebab kedua, ibadah dan amal sholeh yang bercampur riya’. Dalam hal ini, takabur terbagi menjadi dua sifat, yaitu duniawi dan agama.

Sifat duniawi yaitu apabila seseorang rajin ibadah dan beramal sholeh namun gemar mendapatkan pujian.

Sementara takabur sifat agama seperti mengira amal orang lain lebih rendah dari dirinya.

Karena Keturnan dan Harta
Sebab ketiga adalah keturunan atau nasab. Orang yang merupakan keturunan orang terhormat berpotensi takabur dan menganggap rendah orang lain.

Sebab keempat yaitu harta. Cirinya, setiap kali berkumpul dalam majelis selalu membicarakan harta, bisnis, berujung pada pamer kekayaan.

Orang seperti ini haus akan pujian dan sangat mendambakan penghormatan atas kekayaannya.

Sebab kelima adalah wajah yang elok rupawan. Wajah rupawan, jika tidak hati-hati, bisa mengarahkan pada ketakaburan.

Jika akhlaknya buruk, pemilik wajah rupawan bisa menjadi sombong.

Sebab keenam yaitu kekuasaan. Dengan kekuasaan, seseorang bisa melakukan apapun. Hal ini bisa membahayakan orang lain. Karena kekuasaan, dia bisa berbuat zalim kepada orang lain.

Sedangkan sebab terakhir yaitu berasal dari golongan yang banyak. Padahal, banyaknya golongan tidak menentukan sebuah amalan diterima Allah SWT.

Sumber: dream.co.id