Dua pertistiwa pembunuhan sadis terjadi di tanah Borneo sepekan terakhir.

Pertama, ditemukan mayat seorang pria tanpa kepala di semak-semak di tepi Jalan Gubernur Syarkawi, Desa Lok Baintan Dalam RT 02, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.

Jasad korban ditemukan sepasang suami istri yang tengah beristirahat tidak jauh dari lokasi penemuan mayat yang belakangan diketahui bernama Rahmadi, alias Madi, 19, pada Selasa (20/11). Peristiwa ini telah ditangani oleh pihak kepolisian.

Selama dua hari tim gabungan Resmob Polda Kalsel, Jatanras Polres Banjar dan Polsek Sungai Tabuk, bekerja siang dan malam melakukan penyelidikan.

Hingga akhirnya, Kamis (22/11) sekira pukul 00.50 Wita, polisi berhasil meringkus pelaku di rumah kos yang berada di Gang 55 Desa Bentok kecamatan Bati-bati, Tala. Pelaku adalah M Safrudin alias Amat, 19.

Amat tega berbuat keji, lantaran sering di-bully oleh korban. Sakit hati karena terus dirundung Madi, Amat akhirnya menghabisi korban. Bahkan dia tega memenggal kepala korban.

Kejadian terbaru hampir serupa, terjadi Jumat (23/11) pagi. Warga Jalan Ahmad Yani digegerkan penemuan jasad perempuan dengan leher tergorok di dalam mobil Suzuki Swift. Informasi didapat, korban bernama Levie Prisillia.

Pelakunya adalah Herman, pria pengangguran yang dikenal korban sebagai paranormal. Herman membunuh Levie karena tersinggung ucapan dan tindakan korban saat menjalani ritual.

Dua kejadian itu, diyakini psikolog Dian Ayu Setyorini terjadi lantaran ada penyebabnya.

“Tidak ada akibat kalau tidak ada sebab yang melatarbelakangi pelaku berbuat seperti itu,” ujar Ayu dikutip dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Sabtu (25/11).

Biasanya, terang Ayu, penyebabnya, karena pelaku mempunyai luka batin yang sangat membekas dan tidak dapat tertangani dengan baik.

Pelaku mengalami depresi yang kuat. Orang seperti itu, kata Ayu, mempunyai sifat pemarah dan mudah sekali tersinggung.

“Biasanya mempunyai sifat pemarah, mudah tersinggung. Orang yang mempunyai luka batin biasanya pemarah, suka bicara yang menyakiti orang lain, arogan, sadis, bisa berbuat nekat,” katanya.

Apakah cara untuk mengobati orang seperti itu? Ayu menyarankan untuk mencari teman yang bisa diajak untuk berbagi cerita.

Atau bisa pula dengan melakukan berbagai macam kegiatan positif, sehingga tidak berpikir ke arah negatif.

“Kenali apa yang bisa memicu stres, cemas, depresi pada diri sendiri, relaksasi, berfikir positif, yang terakhir datang ke ahli mengobati gangguan jiwa seperti psikolog,” sarannya.

Sumber: wikimedan.com