Keistimewaan Menikah di Bulan Syawal, Jangan Percaya Mitos-mitosnya Ini

Setelah bulan suci Ramadhan ada bulan Syawwal, di mana masyarakat sudah mengenal sunnah puasa 6 hari di bulan Syawwal.

Akan tetapi ada juga sunnah lainnya di bulan Syawal yaitu anjuran menikah di bulan Syawwal. Bagi yang sudah dimudahkan oleh Allah, bisa melaksanakan sunnah ini. Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallaahu’anha, beliau berkata,

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menikahiku di bulan Syawwal dan mulai berkeluarga denganku di bulan Syawwal, maka siapakah istri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang lebih beliau cintai daripada aku.” [HR. Muslim]

Beberapa Pelajaran

1) Dalam hadits yang mulia ini terdapat anjuran menikah di bulan Syawwal.

Al-Imam Muslim rahimahullah menyebutkan hadits ini dalam sebuah bab yang beliau beri judul,

“Disunnahkan Menikah, Menikahkan dan Mulai Berkeluarga di Bulan Syawwal”

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

“Dalam hadits ini terdapat sunnahnya menikahkan, menikah dan mulai berkeluarga (malam pertama) di bulan Syawwal, dan sahabat-sahabat kami (ulama Syafi’iyyah) telah menegaskan hukum sunnahnya, dan mereka berdalil dengan hadits ini.” [Syarah Muslim, 9/209]

2) Bantahan terhadap anggapan sial menikah di bulan-bulan tertentu atau hari-hari tertentu, dan bahwa itu termasuk kebiasaan jahiliyah.

➡ Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

“Dan maksud Aisyah dengan ucapan ini adalah untuk membantah kesyirikan Jahiliyah dan takhayul sebagian orang-orang awam hari ini yang menganggap makruhnya menikah, menikahkan dan mulai berkeluarga di bulan Syawwal. Ini adalah anggapan yang batil, tidak ada asalnya (dalam syari’at), dan ini dari sisa-sisa Jahiiyah, yang dulu mereka melakukan thathayyur (takut sial karena sesuatu) untuk menikah di bulan Syawwal.” [Syarah Muslim, 9/209]

Bulan Syawwal dianggap bulan sial menikah karena nggapan di bulan Syawwal unta betina yang mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha).

Ini adalah tanda unta betina tidak mau dan enggan untuk menikah, sebagai tanda juga menolak unta jantan yang mendekat. Maka para wanita juga menolak untuk dinikahi dan para walipun enggan menikahkan putri mereka.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi ‘Aisyah untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat yaitu tidak suka menikah di antara dua ‘ied (bulan Syawwal termasuk di antara ‘ied fitri dan ‘idul Adha), mereka khawatir akan terjadi perceraian. Keyakinan ini tidaklah benar.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 3/253).

3) Bahkan takut sial termasuk syirik kepada Allah ta’ala, seorang mukmin hendaklah bertawakkal kepada Allah ta’ala dan beriman bahwa hanya Allah yang bisa memberikan manfaat dan menimpakan mudarat kepadanya.

Adapun hari-hari, bulan-bulan dan angka-angka tersebut tidak sedikit pun dapat memberi keberuntungan dan kemudaratan baginya.

Maka menghitung-hitung tanggal lahir calon pengantin untuk menentukan jodoh atau hari pernikahan yang cocok adalah termasuk kebiasaan jahiliyah dan syirik kepada Allah ta’ala.

➡ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang dihalangi oleh perasaan sial untuk melakukan hajatnya maka ia telah berbuat syirik.” [HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jaami’: 6264]

➡ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

“Takut sial itu syirik, takut sial itu syirik, dan tidaklah dari kita kecuali merasa takut sial, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.” [HR. Abu Daud dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 3098]

4) Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menerangkan bahwa pernikahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan Aisyah radhiyallahu’anha menunjukkan dua hukum penting terkait pernikahan:

Pertama: Boleh bagi orang tua atau wali menikahkan anak kecil yang belum baligh meski tanpa izinnya dengan syarat ada suatu kemaslahatan yang besar, seperti dinikahkan dengan seorang ulama atau seorang yang shalih.

Adapun menikahkannya tanpa kemaslahatan, seperti hanya agar orang tua mendapatkan bagian dari maharnya maka tidak boleh.

Kedua: Bolehnya orang tua atau orang dewasa menikahi gadis muda, bahkan termasuk sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, tidak sepatutnya mencela dan menjelek-jelekan hal tersebut (lihat I’aanatul Mustafid, 1/183).

5) Hadits yang mulia ini juga menunjukkan keutamaan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha dan bantahan terhadap orang-orang kafir Syi’ah yang membenci dan mencela beliau.

Bahkan beliau adalah wanita yang paling mulia, hanya saja ulama berbeda pendapat apakah beliau lebih mulia daripada Khadijah radhiyallahu’anha atau sebaliknya, yang benar adalah masing-masing memiliki kemuliaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh yang lainnya, tetapi ulama seluruhnya sepakat wanita terbaik adalah Aisyah dan Khadijah radhiyallahu’anhuma (lihat I’aanatul Mustafid, 1/183-184).